Pengalaman dan Tips Ujian DELF
Miscellaneous

Pengalaman dan Tips Mengikuti Ujian Bahasa Prancis DELF A1-A2

Kalau kamu sedang membaca artikel ini, saya asumsikan kamu sedang mencari info dan tips mengenai pengalaman mengikuti ujian bahasa Prancis DELF. Hehe.

Anyway, pada 2019 dan 2020 saya mengikuti ujian DELF A1 dan A2 di IFI Yogyakarta. Seperti biasa, saat belajar dan persiapan saya pun googling tentang pengalaman dan tips – seperti apa di saat hari ujian, tahapannya, suasananya, dll. Sayangnya, saya tidak mendapatkan banyak informasi yang saya inginkan.

Oleh karena itu, di artikel ini saya ingin berbagi pengalaman mengikuti ujian DELF.

Semoga tulisan ini berguna bagi siapa saja yang sedang mengejar beasiswa ke Prancis, sedang mempertimbangkan untuk ikut ujian DELF, atau yang sedang kepo gimana sih rasanya ikut tes bahasa Perancis ini.

Sekilas tentang DELF/DALF

Untuk yang belum familiar dengan DELF/DALF, jadi ujian ini merupakan ujian kemampuan bahasa Prancis untuk penutur asing. Jika peserta lulus, ijazah resminya diterbitkan oleh CIEP (Pusat Internasional Studi Pedagogi) yang dinaungi oleh Kementerian Pendidikan Nasional Republik Prancis.

Nah, berbeda dengan tes TOEFL atau IELTS yang sertifikatnya berlaku 2 tahun, ijazah atau diploma DELF ini berlaku seumur hidup dan diakui secara internasional.

Syarat kelulusannya yaitu nilai minimal 50/100 untuk seluruh kompetensi yang diujikan, terdiri dari pemahaman mendengar dan membaca, keterampilan menulis dan berbicara.

Ujian ini diikuti oleh siapa saja, dari anak sekolah, mahasiswa, dan umum. Ada 6 tingkat kemampuan yang diujikan, yaitu:

– A1 : tingkat dasar (pengenalan)

– A2 : tingkat survive

– B1 : tingkat madya/ mencukupi

– B2 : tingkat mandiri/ lanjutan

– C1 : tingkat otonom/ berpengalaman

– C2: tingkat mahir

Seorang peserta tidak perlu mengikuti ujian dari tingkat paling dasar. Jika memang mampu dan percaya diri, bisa juga kok langsung ambil tingkat B1 atau B2.

Nah, lalu apa bedanya DELF dan DALF?

Singkatnya, DELF itu artinya diploma untuk kemampuan bahasa Prancis level dasar yaitu dari A1-B2. Sedangkan, DALF itu untuk level lanjut (advanced) yaitu C1-C2.

Apa manfaatnya mengikuti ujian DELF/DALF?

Banyak dong, terutama kalau kamu bermimpi kuliah, kerja, atau menetap di Prancis!

Universitas di Prancis biasanya mewajibkan B2 untuk syarat pendaftaran. Walaupun saya pernah dengan cerita bahwa ada juga yang diterima dengan diploma B1 – mungkin sifatnya case by case ya.

Oya, bahasa Prancis juga merupakan salah satu bahasa resmi PBB selain bahasa Inggris, Rusia, Arab, Rusia, dan Mandarin. Bahasa ini juga paling banyak di pakai di berbagai negara di dunia setelah bahasa Inggris. Kita bicara jumlah negara ya, bukan jumlah penutur. Hehe.

Bahasa Prancis juga digunakan di banyak negara lain (francophone) seperti di Eropa, Afrika, Kanada, baik sebagai bahasa resmi atau bahasa sehari-hari, baik, dll. Jadi, kalau kamu juga berencana untuk menapaki karir di dunia internasional, tentu kemampuan bahasa Prancis menjadi poin plus- plus.

French boulangerie. Photo by: Rosa Safitri
French boulangerie. Photo by: Rosa Safitri

Beberapa negara di Eropa dan Amerika yang juga menggunakan bahasa ini, antara lain Swiss, Belgia, Luxembourg, Monaco, dan Kanada.

Selain itu, berbagai negara bekas koloni Prancis di benua Afrika juga menggunakan bahasa ini, antara lain: Maroko, Aljazair, Tunisia, Rwanda, Ivory Coast, dll.

Saat jalan-jalan ke Maroko dan Prancis, saya menyadari bahwa kemampuan bahasa Prancis akan sangat berguna saat traveling ke negara-negara berbahasa Prancis. Terlepas dari punya ijazah atau tidak, kemampuan bahasa asing selalu bermanfaat kan ?

Kapan dan dimana bisa ikut Ujian DELF?

Ujian DELF ini dapat diikuti di 1.100 pusat ujian yang tersebar di 174 negara. Di Indonesia sendiri, ujian ini diselenggarakan oleh Institute Francais Indonesia (IFI) dan organisasi rekanannya di berbagai kota seperti di IFI Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Medan Bali.

Ujian DELF diselenggarakan beberapa kali dalam satu tahun, biasanya di bulan Maret, Mei, Juni, Oktober, dan November. Cek website IFI untuk info jadwal selengkapnya ya.

Untuk memaksimalkan persiapan, kamu harus tahu kelemahan dan kelebihan dalam belajar bahasa.

Persiapan sebelum ujian DELF

Saya mengikuti ujian DELF A1 pada Oktober 2019 dan A2 pada Maret 2020 (sesaat sebelum pandemi) di IFI Yogyakarta . Awalnya saya ragu ntuk mengikuti ujian A1 karena masih sangat dasar. Tapi setelah beberapa pertimbangan, saya putuskan untuk mengambil tes ini.

Sama seperti tes IELTS, ada 4 kemampuan yang diujikan untuk menilai kemampuan pasif dan aktif peserta, yaitu:

1. Pemahaman Mendengar (Compréhension orale)

2. Pemahaman Membaca (Compréhension écrite)

3. Keterampilan Menulis (Production écrite)

4. Keterampilan Berbicara (Production orale)

Saya kursus A1 di IFI Yogyakarta dari Mei – September 2019, 3x seminggu dan 1,5 jam/pertemuan. Lalu, Januari 2020 saya ikut kursus intensif 6 jam sehari, 5x seminggu. Saya anggap sesi kelas menjadi persiapan saya yang paling utama.

Contoh ilustrasi untuk production orale

Selain belajar di kelas, instruktur kami juga sering memberikan simulasi untuk tes DELF. Jadi kami memiliki gambaran seperti apa saat ujian.

Selain itu, saya juga belajar mandiri. Saya download soal-soal DELF dari internet, nonton video youtube, dan banyak mengerjakan soal.

Untuk memaksimalkan latihan, kamu harus tahu kelemahan dan kelebihan dalam belajar bahasa. Misalnya, saya biasanya lemot di bagian listening dan speaking, tetapi cukup baik di reading dan writing. Jadi, saya perbanyak porsi latihan untuk kemampuan yang saya masih kurang.

Untuk bagian speaking, saya banyak berlatih sendiri, dengan teman les, dan menonton video dari Youtube.

Dua hari sebelum ujian, saya siapkan dokumen dan alat tulis yang harus dibawa, yaitu surat ujian  (letter de convocation), KTP, pulpen, dll. Satu hari sebelum ujian, biasanya jadi hari tenang. Menurut saya, ini penting supaya kita tidak terlalu stress.

Hari Ujian DELF

Sebagaimana tips klasik, datanglah maksimal 10 – 15 menit sebelum mulai ujian. Tips ini terkesan sederhana dan sering diulang, tapi juga sering diabaikan.

Jadi, saya ulangi lagi: jangan datang terlambat. Atau, kamu tidak diperbolehkan mengikuti ujian. Ganggu konsentrasi peserta lain tau !

Oiya, bisa juga dalam satu periode ujian, sebenarnya kita ambil dua tingkat sekaligus lho. Biasanya ujian per level dilakukan di hari berbeda.

Misal nih, kamu harus segera mendapatkan diploma B2, tapi kamu kurang yakin bisa lulus atau tidak. Maka, bisa juga lho kamu ambil level B1. Cuma uang pendaftarannya dobel ya. Hehe.

Durasi pelaksaan ujiannya seharian penuh, jadi siapkan tenaga dan waktu dengan baik ya. Ujian diawali dengan listening, lalu dilanjutkan dengan kemampuan membaca, menulis, dan berbicara.

Untuk tingkat A1 dan A2 yang merupakan tingkat paling dasar, topik yang diujikan juga masih seputaran kehidupan sehari-hari saja, misal tentang percakapan di restoran, di stasiun, bertanya arah jalan, dll.

Pemahaman Mendengar (Compréhension de l’oral)

Bagian ini berlangsung selama 20-25 menit. Ada beberapa percakapan singkat yang temanya berkisar dengan kehidupan sehari-hari.

Saran saya untuk bagian ini adalah: fokus!

Walaupun sudah sering berlatih, kalau nggak fokus maka apa yang terdengar selama tes ini hanyalah seperti orang kumur – kumur. hahaha.

Tenang, recordingnya dimainkan 2x kok. Jadi, kalau kelewat di yang pertama, masih ada kesempatan kedua.

Kesulitan terbesar saya (dalam bahasa apapun) untuk listening biasanya yang berhubungan dengan angka. hahaha. Biasanya begitu mendengar langsung gugup dan blank. hahaha.

Trik saya adalah menuliskan apa yang saya dengar dalam huruf. Setelah itu, baru saya terjemahkan ke angka.

Beberapa contoh soal yang berhubungan dengan angka, misalnya:

  • Nomor telepon
  • Nomor rumah/ apartment
  • No penerbangan/ kereta
  • Jam
  • Ruangan kelas

Pemahaman Membaca (Compréhension des écrits)

Untuk bagian ini, ada beberapa teks singkat atau gambar diikuti beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan teks tersebut.

Misalnya ada tiket kereta, undangan pesta, peta, atau jadwal acara di TV. Pertanyaannya seputar angka, quand, qui, quel, pourquoi, etc. Gampang kan?!

Gampang kok, asal kamu bisa membedakan kata- kata tanya di atas. Hehe.

Keterampilan Menulis (Production écrite)

Ini juga bagian yang cukup saya suka karena saya anaknya suka mengarang bebas. Hahaha.

Keterampilan menulis ini dibagi menjadi 2 bagian. Yang pertama biasanya mengisi formulir singkat, seperti nama, tanggal lahir, alamat, nomor telepon, alamat email, etc.

Yang kedua kita menulis satu teks singkat, biasanya surat, kartu pos, atau menulis/ membalas undangan kepada teman.

Saran saya, banyak – banyaklah berlatih menulis dan memperbanyak kosakata. Kalau kamu suka bingung dengan huruf e mana yang dipakai (seperti saya), apakah e, è, é atau ê, work on that.

Keterampilan Berbicara (Production orale)

Nah, ini dia bagian yang paling menegangkan buat saya. Saya paling takut kalau kuping saya tiba-tiba budeg dan nggak mudeng apa kata examiner.

Dan kejadian dong! hahaha.

Jadi pas ujian A2 di awal Maret 2020 pas banget sebelum pandemi. Saat itu di Indonesia belum diwajibkan memakai masker. Tapi, IFI sebagai bagian dari Kedubes Prancis sudah mewajibkan protokol kesehatan, termasuk pemakaian masker bagi para penguji.

Dan, tibalah saat ibu penguji berkata sesuatu dimana saya nggak dengar dengan jelas dan nggak bisa membaca gerak bibirnya. hahaha.

Setelah pardon berkali-kali, si ibu bilang ‘no problem’. Saya juga saking groginya bukannya minta dibuka bentar maskernya apa gimana ya, pardon-pardon aja terus sampai ibunya bete. hahaha.

Setelah selesai dan keluar ruangan, saya masih penasaran. Kira- kira apa yang tadi beliau ucapkan. Ternyata oh ternyata, setelah melalui tahap analisa, si ibu tadi bilang : bon courage – yang artinya, good luck ya.

Easy French, salah satu akun Youtube untuk belajar Bahasa Prancis

Nah, bagian speaking ini tentunya privat ya. Maksudnya tes dilakukan di dalam ruangan yang hanya ada peserta dan penguji. Pengujinya sendiri ada 2 (orang Indonesia), yang satu akan memberikan pertanyaan ke kita, yang satunya lagi sepertinya bagian mencatat (sepertinya begitu).

Ada 3 bagian dalam production orale ini, yaitu: perkenalan diri, monolog, dan role play.

Perkenalan diri, standar lah ya. Nama, umur, pekerjaan, atau kuliah di mana, hobi, kalau weekend ngapain, suka makan apa.

Sebelum masuk ke ruang ujian, peserta mengambil topik untuk monolog dan role play. Mekanisme nya sama seperti kalau kamu lagi mau ngambil undian arisan. Nah tuh.

Udah deg-degan belum? Hehe. Tenang, kamu boleh ambil beberapa kertas yang bertuliskan topik tertentu (kalau tidak salah dua). Baca dengan teliti, lalu pilih masing – masing satu topik yang paling kamu kuasai.

Kemudian, kamu diberikan waktu sekitar 10 menit untuk persiapan.

Untuk monolog, peserta diminta berbicara tentang topik yang dipilih. Topiknya umum dan biasanya sesuatu yang sifatnya berhubungan dengan si kandidat itu sendiri. Misalnya, tentang kenapa belajar bahasa prancis, hobi,, dll.

Untuk roleplay, peserta dan examiner akan melakukan percakapan dan berbagi peran dalam sebuah situasi. Misalnya, untuk percakapan di sebuah restoran, peserta menjadi pelayan dan penguji menjadi pelanggan.

Tips Sebelum Ujian

1. Ujian ini cukup menguras tenaga dan waktu. Jadi persiapkan diri dengan baik dan tidur secukupnya.

2. Jangan telat! Selain bisa di kick dari ruang ujian, pasti deg-degan banget tuh setelah lari-lari lalu langsung listening. Pasti nggak akan fokus.

3. Berusaha tenang dan konsentrasi selama ujian. tenang, ini hanya ujian bahasa. Ujian kehidupan lebih berat kan?! Eh.

4. Persiapkan alat tulis dan ID dengan baik

5. Jangan bawa barang- barang yang kurang berguna ke dalam ruangan. Jangan lupa HP di airplane mode atau dimatikan sekalian

6. Belajar yang cukup, terutama di bagian yang belum terlalu dikuasai.

Kalau kamu lemah di bagian listening (seperti saya), perbanyak latihan mendengar supaya telinga kita terbiasa dengan aksen dan logat Prancis, misalnya melalui aplikasi bahasa, podcast, video di youtube, lagu, dll.

Jadi, hasilnya bagaimana? Alhamdulillah saya lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. hehe 🙂

Nah, itu dia pengalaman dan tips saya ikut ujian DELF, semoga bermanfaat yaa. Yang sudah pernah, share juga dong 🙂 (terutama yang sudah B1/B2) hehe.

Bonne chance à tous!

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *