Wageningen University and Research
Belanda,  LIFE,  Miscellaneous

Pengalaman Magang di Belanda

Catatan ini saya tulis pada Maret 2018 ketika saya baru mulai magang di salah satu institusi penelitian di bidang keamanan pangan di Belanda sebagai bagian dari program master saya.

Magang dan bekerja tentunya bukan hal yang persis sama. Sebagai intern, saya tidak punya kewajiban dan hak layaknya pegawai. Tapi, saya tergelitik untuk ‘membandingkan’ pengalaman kerja saya di Indonesia dan magang di Belanda ini.

Belanda merupakan negara maju dimana orang-orangnya terkenal efisien dalam bekerja. Selain itu, work life balance di sini juga sangat bagus. Pasti ada dong work culture, ethic, dan habit yang bisa kita contoh.

Wageningen University and Research from my room at Bornsesteeg
Wageningen University and Research (2017) dari kamar saya. The best view !

Saya sangat excited memulai periode internship saya selama 4 bulan. Lokasi kantornya dekat sekali, kurang dari 10 menit bersepeda dari tempat saya tinggal. Gedungnya bahkan kelihatan dari kamar saya yang berada di lantai 17.

Ini merupakan catatan kecil saya dari berbagai hal yang saya alami, rasakan, dan amati pada minggu – minggu awal internship saya. Semoga bermanfaat!

1.    Project yang jelas

Sebagai intern saya harus mengajukan proposal untuk project yang ingin saya lakukan. Atau, bisa juga kita melamar pada project tertentu.

Jadi nggak ada tuh cerita anak magang yang dikasih disuruh fotokopi, antar dokumen, atau pekerjaan receh lainnya. Di kantor saya dulu ada dua anak magang S1 yang diperlakukan begini lho, kasihan kan 🙁

Kita juga harus membuat tujuan pembelajaran (learning objectives) dan bagaimana kita akan mencapainya. Saya juga harus menulis laporan berkala dan reflection paper. Nah, esai ini adalah salah satu yang sangat umum di pendidikan di Belanda.

Di dalam esai ini kita coba merefleksikan apa yang sudah kita pelajari, apa yang tidak tercapai, penyebabnya, dll.

Intinya adalah supaya kita bisa belajar dari proses yang baru saja kita lalui. Tentunya kita akan mendapat tanggapan dan masukan dari supervisor.

2.    Proper introduction

Hari pertama saya awali dengan bertemu supervisor saya. Kami membereskan beberapa urusan administrasi, seperti tanda tangan kontrak dan foto untuk ID.

Selanjutnya supervisor saya memberikan office tour singkat, dari kasih tahu caranya ngeprint, letak mesin kopi, kantin, toilet, work station, habit di kantor, serta perkenalan singkat dengan kolega terutama yang akan berurusan dengan project saya.

Jangankan onboarding program, hal remeh seperti di atas dulu nggak pernah saya dapatkan di Indonesia. Seolah-olah anak baru harus bisa menavigasi kantor dan penghuninya sendiri.

Menurut saya apa yang dilakukan supervisor saya tersebut sangat bermanfaat untuk anak baru. Saya jadi merasa disambut dan menjadi bagian dari mereka. Seluruh proses tadi nggak lama kok, paling 1 – 2 jam.

Selain itu, setiap awal bulan setiap pegawai baru juga diberikan introduksi tentang institusi, seperti peran institusi ini, struktur organisasinya, pejabat, dll. Juga tentang menggunakan social media. Intinya jangan sampai kita berlebihan berbagi di socmed, terutama untuk hal-hal yang sifatnya rahasia perusahaan.

Oh ya, di kantor ini juga ada semacam ‘serikat pekerja internasional’ untuk mewadahi para pegawai yang berasal dari luar Belanda. Kegiatannya nggak serius-serius amat kok, paling cuma makan – makan, piknik, tips and trick mengatasi culture shock, dll. Seru ya?

3.    Safety and security training

Oh ya, sebagai overview, tempat saya magang ini adalah sebuah institusi riset yang di dalam gedungnya ada banyak laboratorium, bukan hanya gedung perkantoran biasa saja.

Jadi, setiap pegawai baru juga wajib mengikuti safety and security training. Hal ini tentu sangat penting bagi yang bekerja di laboratorium.

Selain itu, ada juga materi untuk menjaga keselamatan kerja secara umum. Misalnya tentang postur duduk yang baik, penggunaan komputer, waktu istirahat, cara mengenali stres di tempat kerja,  dll.

Selain itu juga disampaikan apa yang harus dilakukan dalam kondisi darurat seperti kebakaran atau serangan teror.

Misalnya, setiap pegawai wajib check in dan check out, walaupun hanya keluar 10 menit misalnya. Hal ini penting dalam kondisi darurat.

Contohnya saat ada kebakaran, petugas evakuasi tentu tidak akan mencari orang yang sudah check out. Tapi, kalau orang tersebut lupa check out bisa jadi justru membahayakan keselamatan si petugas evakuasi.

Dicari- cari nggak ketemu, eh taunya lagi jajan cilok di depan gang. Eh itu mah anak SD ya. Hahaha.

Ini namanya prinsip social security. Kita tidak hanya berpikir keselamatan diri sendiri, tapi juga dampaknya ke orang lain.

4.    Working hours

Nah, ini nih yang saya paling demen. Hahaha.

Pemerintah Belanda mengatur jumlah jam kerja dengan sangat ketat. Tujuannya untuk mencegah overwork yang dapat berdampak pada wellbeing pekerja.

Pekerja full time (termasuk saya) biasanya kerja 36 – 40 jam/ minggu.

Kebetulan kantor saya memberlakukan jam kerja yang cukup fleksibel, yang penting jumlahnya memenuhi syarat.

Kita boleh mulai dan selesai kerja sesuai preferensi kita asalkan waktunya normal ya, yaitu antara 07.00-19.30.

Kebanyakan mulai jam 8.30 dan selesai 17.00. Semua pegawai juga harus pulang sebelum jam 19.45 dan lembur di hari Sabtu harus seizin Business Unit Manager. Seserius itu mau minta izin lembur.

Banyak juga yang lembur di awal minggu, biar hari jumat bisa pulang siang. Atau kalau misalnya kelebihan 4 jam di minggu lalu, minggu depannya bisa dikurangin 4 jam.

Tapi, bagaimana cara menghitung jam kerjanya?

Selain tentunya sudah terekam di mesin, saya cukup membuat file excel, hitung sendiri, lalu supervisor saya bisa cek. Simpel kan?

Saya yang dulunya tukang (dipaksa) lembur, tentu saja amat terkesima dengan skema ini. Hahaha.

5.    Lunch and break time

Masih ada kaitannya dengan jam kerja nih. Selain jumlah jam kerja yang diatur, jam istirahat dan makan siang juga diatur lho.

Regulasi pemerintah Belanda juga mengatur tentang break atau istirahat singkat yang biasanya diisi dengan ngopi bareng.

Jadi begini kira- kira ritme hariannya.

Mulai kerja jam 08.00 – 08.30; coffee break jam 10.00 – 10.15; makan siang jam 12.00-12.30; break lagi jam 15.00; Jam 16.00 – 17.00 pulang.

Kue untuk perpisahan salah satu pegawai senior
Kue untuk perpisahan salah satu pegawai senior

Waktunya break artinya kantin pasti penuh. Walaupun banyak juga yang memilih ngopi di ruangan masing-masing. Saya sendiri biasanya duduk bersama para intern lainnya.

Ada beberapa mesin kopi, teh, dan sup. Boleh ambil sepuasnya.

Kalau ada yang sedang ulang tahun atau pensiun dan bawa kue, biasanya juga akan dibagi saat break.

Istirahat makan siang di sini paling cuma 30 – 45 menit karena orang Belanda kalau makan siang menunya paling pol roti, keju, buah.

Walaupun di kantin ada microwave, biasanya yang memakai adalah para pegawai dari luar Belanda.

Boscche bollen, kue khas dari Den Bosch
Bosche bollen, kue khas dari kota Den Bosch. Dibawain teman magang karena saya bilang udah lama banget nggak makan kue ini. Sweet banget ya.

6.    Meeting

Nah, poin ini juga sangat berbeda dengan pengalaman saya saat kerja dulu.

Dulu bos saya suka semena- mena ngajak meeting lewat jam kantor. Suka – suka boslah. Sudah siap-siap pulang, eh ditelpon buat meeting. Rekor dulu saya sering rapat sampai jam 10 – 11 malam!

Kalau di kantor ini dan juga di Belanda pada umumnya, jadwal rapat selalu ditentukan beberapa hari atau bahkan beberapa minggu sebelumnya. Walau tidak menutup kemungkinan untuk meeting mendadak jika memang diperlukan.

Tujuannya tentu agar kita bisa menyiapkan materi rapat dengan baik dan tidak mengganggu pekerjaan lainnya. Bagaimana bisa efisien kalau kita tidak siap ?

Undangan rapat juga selalu disampaikan lewat email atau outlook dengan info waktu, tempat, dan durasinya. Jadi, nggak ada tuh undangan rapat di grup Whatsapp.

Enaknya memakai outlook juga kita bisa mengetahui jadwal rekan kerja – kapan beliau sibuk, kapan di luar kantor, kapan liburan, dll. Jadi gampang banget sebenarnya nyari jadwal. Kalau misalnya nggak ketemu waktu yang cocok, baru deh didiskusikan.

Saya sudah ikut rapat project beberapa kali. Singkat, padat, tepat waktu, dan efisien. Satu menit pertama untuk say hi, selanjutnya langsung masuk materi, begitu selesai pun langsung ditutup dan lanjut kerja sendiri- sendiri.

Saya rasa ini adalah kebiasaan yang baik dan bisa ditiru ya. Kita bisa menghargai waktu orang lain, tidak seenaknya mengajak atau membatalkan janji, dan paling penting tidak datang terlambat.

Nah, itu dia beberapa pengalaman saya saat magang di sebuah institusi riset di Belanda. Kamu ada pengalaman kerja yang menarik? Share dong di kolom komentar!

Wageningen, Maret 2018

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *