Asia,  LIFE,  Miscellaneous,  Travel,  World

Cerita Tentang Hla Soe dari Mandalay, Myanmar

Hla Soe bukan siapa- siapa, cuma seorang tukang becak di Mandalay- Myanmar yang kebetulan berjodoh mengantar kami seharian berkeliling Mandalay.

Tubuhnya yang hitam kurus itu nyatanya begitu kuat mengayuh sepeda tua berpuluh kilometer dengan 2 penumpang, saya dan Jenni.

Tapi bagi kami, Hla Soe bukanlah tukang becak biasa. Dengan bahasa Inggris terbata- bata, Hla Soe selalu berusaha menjelaskan tentang tempat yang kami datangi. Setia membawakan sepatu dan topi setiap kali masuk pagoda (masuk pagoda sama seperti masuk mesjid, harus lepas alas kaki). Dia juga menyimpan peta objek wisata di Mandalay dan beberapa hotel. Siapa tahu nanti penumpangnya butuh. Yes, Hla Soe juga memposisikan dirinya menjadi tour guide kami!

Hla Soe selalu bilang, ‘ I am strong. I am Ok.’ Tak ada keluhan. Malahan tawa tak pernah lepas dari wajahnya, sehingga gigi ompongnya terlihat jelas. Jelas tubuhnya bercucuran keringat dan ia mulai kepayahan membawa kami berdua.

Hla Soe and Myanmar trishaw
Becak ala Myanmar. Jenni pas kebagian duduk di depan, saya duduk di belakang Jenni. Saling membelakangi

Hla Soe selalu menolak diajak makan siang. Padahal tenaganya mungkin sudah habis untuk menggenjot sepeda tuanya itu. Dia selalu bilang tidak lapar. Atau mungkin dia sudah terbiasa sedikit makan karena tak punya uang. Cuma mengunyah sirih yang dia mampu. Baru malam hari ketika sudah selesai mendatangi bucket list Mandalay, Hla Soe mau diajak makan. Kami pun senang sekali melihat Hla Soe makan begitu lahap. Mungkin amat jarang baginya bisa makan di rumah makan Chinese food yang lezat itu.

Bagaimana kami tak merasa tersentuh dengan perilaku tulus Hla Soe, sampai –sampai air mata terharu turun berkali- kali setiap melihat Hla Soe menghapus keringat di wajahnya sambil berkata ‘Halo, I am Ok. Strong (sambil memamerkan otot lengannya seperti Popeye). You?’.

Hla Soe ate Chinese Food
Hla Soe akhirnya mau makan. Dan lahap!

Hla Soe lebih disiplin soal waktu daripada kami. Malah dia yang mengatur jadwal jam sekian kami harus kemana, jam sekian harus sampai mana supaya kami tidak melewatkan setiap atraksi menarik di tempat yang kami datangi. Dia bahkan tak pernah membicarakan tambahan upahnya padahal kami gunakan tenaganya lebih dari kesepakatan.

Hla Soe yang selalu memastikan bahwa kami ‘ok’ berkeliling Mandalay dalam cuaca panas dan jalan berdebu. Hla Soe rela mengayuh sepeda berputar- putar mencari restoran halal. Mencarikan tempat solat. Ya, dia Buddha dan kami muslim. Tapi jelas baginya perbedaan bukan masalah. Ia gigih memenuhi kebutuhan sesuai ajaran agama kami.

Roman mukanya begitu cemas, ketika ia memasrahkan kami kepada seorang petugas teater supaya kami tidak kesulitan jika ingin pulang ke hotel karena hari sudah larut malam. Kami terpaksa memaksanya pulang, padahal sebenarnya Hla Soe bersikeras ingin menunggui kami selesai menonton Mandalay marionette (seperti wayang golek ala Myanmar) lalu mengantar kami sampai hotel. Bahkan kami harus berpura- pura ngambek kalau Hla Soe tidak mau pulang. Akhirnya ia menyerah dan memilih pulang, setelah kembali memasrahkan kami kepada seorang mahasiswa yang bisa berbahasa Inggris di gedung teater. Maaf Hla Soe, kami ingin kamu pulang dan istirahat.

———–

Selang satu minggu sejak kami pulang dari Myanmar, sebuah nomor Indonesia (ini yg aneh) mencoba menelpon. Nomor yg sama yang berkali- kali menelpon saat kami masih di Myanmar tapi tidak saya angkat karena kuatir biaya roaming (pelit).

Lalu suara lelaki, bicaranya kurang jelas, sesekali suaranya timbul tenggelam karena sinyal, saya butuh belasan detik untuk mengidentifikasi suara siapa diseberang sana.

‘Halo. This is Hla Soe. Hla Soe. Mandalay. Mandalay. Hla Soe. Rosa, Hla Soe. Yaaa’

Masyaallah. Hla Soe! Saya terharu, ada bulir hangat yang turun dari pelupuk mata.

Seketika memori ketika di Mandalay seperti terputar. Dia masih ingat saya. Dia bahkan rela menelpon dari Myanmar padahal tarifnya pasti mahal, padahal membeli pulsa bagi Hla Soe juga pasti tak murah. Cuma untuk saling menyapa ‘halo’. Iya, tidak lebih. Karena Hla Soe juga tak bisa banyak bicara bahasa Inggris.

Hla Soe lah yang selama ini menelpon berkali- kali ketika kami melanjutkan perjalanan ke Bagan dan Yangon. Dia pasti ingin memastikan keadaan kami baik- baik saja selama di Myanmar.

Aah Hla Soe! The thoughtful Hla Soe. Semoga sehat selalu, dan semoga dimudahkan rejeki mu.

Ini tentang orang- orang yang kita temui sepanjang perjalanan. Tentang dedikasi kepada profesi. Tentang bukti bahwa materi memang bukan segalanya. Juga tentang menghargai perbedaan.

When we travel, we often find other people’s different life. Then we might realize that in some ways, our life is sooo much easier than their’s.

Sepertinya saya juga harus meresapi yang pepatah bilang ‘happiness is not defined by the things we don’t have, but by the things we already have.” Seperti Hla Soe 🙂

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *